MBWT : Sebuah Perjalanan Yang Berdampak

Hampir 12.000 km, itulah jarak yang terbentang antara Jakarta (CGK) dan Amsteram (AMS), atau setara dengan 13 jam perjalanan udara dengan menggunakan Garuda Indonesia sebagai satu-satunya maskapai penerbangan yang memiliki non stop flight dari Jakarta ke Eropa, tepatnya Amsterdam. Ya, mulai 30 Mei 2014 Garuda Indonesia kembali membuka rute Soekarno Hatta – Schipol kali ini dengan non stop flight. Rute baru ini menghemat 4 jam perjalanan dari rute sebelumnya yang transit via Abu Dhabi. Penerbangan non stop ini terealisasi setelah Garuda tergabung dalam aliansi penerbangan global Sky Team yang merupakan upaya untuk menghadirkan seamless connectivity (konektivitas tanpa batas) kepada para pengguna jasa penerbangan ke Eropa.

Hari itu pun tiba, setelah memenangkan lomba menulis blog Garuda Indonesia dalam rangka Mesake Bangsaku World Tour pada bulan April, akhirnya saya berangkat bersama tim MBWT ke Amsterdam dan Berlin. Kami berangkat dengan GA 088 menuju Amsterdam. Untuk pelayanan sepanjang penerbangan, Garuda Indonesia sebagai peraih penghargaan The World’s Best Cabin Crew dan The World’s Best Economy Class tidak perlu saya ceritakan panjang lebar lagi disini, rasanya 2 penghargaan tadi sudah cukup dapat menjelaskan pelayanan dan fasilitas seperti apa yang saya dapatkan selama penerbangan. Atau simplenya seperti ini, rasakan kembali pengalaman terbang yang pernah anda alami dan bayangkan anda mendapatkan kembali pengalaman tersebut dengan versi yang terbaik di dunia, itulah Garuda Indonesia. Oh iya, Garuda Indonesia juga merupakan maskapai dengan layanan unlimited beverages lho.. Selain itu selama penerbangan kita bisa ngcharge gadget dan ada layanan wifii on board juga. Aman deh… 😀

Tepat pukul 00.30 GA 088 take off dari Bandara Internasional Soekarno Hatta. Kali tim MBWT yang berangkat ada 8 orang yaitu Pandji (tentu saja), Awwe opener MBWT edisi Amsterdam & Berlin, Zaindra, Ben, Danis, Pio, saya sendiri dan special guest Gamila istri Pandji. Suhu di darat 10⁰C saat kami mendarat di Schipol. Begitu keluar dari terminal kedatangan kami langsung disambut oleh teman-teman PPI Amsterdam. Ada Saka, Reni, Iyan dan Tya juga Kenneth local staff Garuda Indonesia Amsterdam yang walaupun “bule” tapi memiliki keramahan ala-ala Indonesia. Kami pun dibawa mampir ke kantor Garuda Indonesia di Amsterdam yang terletak di World Trade Center Schipol untuk numpang rehat sejenak. Disana kami ditemui oleh Bapak Dian Ediono selaku General Manager for The Netherland (yang ternyata followernya Pandji guys), beliau banyak bercerita visi dan misi Garuda Indonesia kedepan, terutama setelah Garuda Indonesia menjadikan Amsterdam sebagai hub penerbangan ke Eropa. Yang menarik ternyata Garuda Indonesia Amsterdam dan teman-teman PPI Amsterdam memiliki hubungan yang sangat baik dan saling mendukung dalam mempromosikan Indonesia khususnya di Belanda.

garuda ams

Tim MBWT bersama Bapak Dian Ediono

Karena malamnya harus melanjutkan perjalanan ke Berlin, maka setelah singgah dari kantor Garuda kami melanjutkan perjalanan ke Amsterdam untuk melihat venue tempat acara dan menitipkan barang-barang sambil bersiap melanjutkan perjalanan di apartemen Trisya yang akan menjadi ibu kost kami selama di Amsterdam.

centraal

Amsterdam Centraal

crea

Bangunan paling kiri adalah Crea, venue MBWT Amsterdam

crea2

on location

straat

Jalanan menuju apartemen Trisya dan Icha tempat kami menginap

Jam 22.50 kami mendarat di Schoenefeld Airport Berlin, begitu keluar dari pesawat wajah saya langsung ditampar oleh dinginnya udara Berlin. Begitu saya cek aplikasi AccuWeather malam itu suhu di Berlin 2⁰C dengan kecepatan angin 20 kph pantas saja dinginnya sampai menusuk ke tulang hehehe… Kami dijemput Sugih dan Wonni dari PPI Jerman untuk diantar ke apartemen ketempat kami menginap. Sempat bertukar kereta beberapa kali, sepanjang perjalanan saya melihat suasana yang berbeda dari Amsterdam yang sangat rapih & modern. Dibeberapa stasiun kereta saya melihat kondisi yang tidak jauh berbeda dari stasiun kereta yang ada di Jakarta, tetapi dibeberapa stasiun berikutnya kesan tersebut hilang. Ternyata itu adalah jejak peninggalan tembok Berlin yang sudah runtuh sejak tahun 1990, sampai saat ini kita masih dapat merasakan sedikit perbedaan antara eks Jerman Barat dan Jerman Timur.

Dihajar suhu rendah dan angin kota Berlin kami pun kelaparan, begitu check in di apartemen kami langsung keluar untuk late dinner. Kebetulan apartemen kami terletak dipusat keramaian jadi cuma butuh 5 menit jalan kaki orang Berlin (karena kami Indonesia banget yang woles selalu dan menikmati tiap langkah maka butuh 10 menit :D) untuk sampai di restoran Turki yang kami tuju. Betul kata Pandji dalam salah satu bitnya kalau orang bule itu senang sama porsi jumbo. Kebab di restoran tersebut gedenya nauzubillah hampir seukuran lengan orang dewasa, sampe bego ngabisinnya. Belom lagi porsi half chicken roasted yang lebih mirip separuh badan kalkun, gueeedii rek klo kata orang Jawa Timur. Saya sendiri memesan donner kebab yang cuma bisa saya habiskan separuhnya, padahal tadinya saya sangat lapar. Oh ya, bedanya donner kebab dan kebab biasa itu kalau donner kebab memakai roti untuk bungkusnya, ya semacam burger dengan segala isi kebab biasa aja.

doner

donner kebab

kubidah

Kubideh

Kami memiliki 2 hari di Berlin. Jadi hanya ada 1 hari penuh untuk mengexplore kota Berlin, karena 1 hari lain kami hanya bisa menyisihkan ½ hari untuk jalan-jalan karena harus mempersiapkan show dimalam harinya. Ican (teman PPI Berlin) yang menjadi guide kami selama 2 hari ini, dia total sekali menjadi guide kami sampai bela-belain ga masuk kantor hehehe… Kami makan siang disebuah restoran Turki dan Persia untuk mencicipi menu yang menurut Ican bikin ketagihan banyak teman-teman dari Indonesia yang pernah mampir di Berlin. Menu tersebut adalah Kubideh, yaitu semacam olahan daging kambing atau sapi yang mirip sosis dan gepuk secara bersamaan, disajikan panas-panas bersama nasi dari beras basmati, mentega, salad, serbuk paprika dan sambal. Wuiiihhh… enaknya puoolll… Soal porsi ga usah ditanya lagi deh ukurannya… Kalau kebenaran lagi ke Berlin harus dicoba deh menu ini, untuk lokasinya tanya aja ke Ican.

Selesai isi bensin kami lanjut ke destinasi kami yang pertama hari itu The Herzog Albrecht Gedächtniskirche (jangankan untuk  menyebutnya, mengetiknya saja membuat saya kesulitan) atau Duke Albert Memorial Church. Gereja yang dibangun pada tahun 1911 (10 tahun setelah Gereja Katedral Jakarta dibangun) ini bergaya arsitektur Neo-Romanesque merupakan saksi bisu dari Perang Dunia I yang dimulai pada 28 Juli 1914. Perjalanan kami lanjutkan mengunjungi Gedung Reichstag tempat parlemen Kekaisaran Jerman bersidang. Gedung yang hanya terletak beberapa meter dari perbatasan Jerman Barat dan Timur ini sempat ditelantarkan oleh Nazi karena ibukota Jerman pindah ke Bonn dan gedung ini sebagian besar rusak  akibat Perang Dunia II. Kemudian pada 1956 Jerman memutuskan untuk merestorasi gedung ini namun harus menghancurkan kubah aslinya karena rusak parah. Dibagian depan gedung ini terdapat sebuah tulisan Dem Deutschen Volke yang artinya Kepada Rakyat Jerman.

volke

Gedung Reichstag

gereja

di depan The Herzog Albrecht Gedächtniskirche

mall berlin

Wittenberplatz

Tidak jauh dari Reichstag terdapat Brandenburger Tor yang merupakan salah satu simbol kota Berlin. Dahulunya Brandenburger Tor ini adalah gerbang untuk memasuki kota Berlin. Gerbang ini juga simbol dari unifikasi Jerman Barat dan Timur. Bergeser sedikit kami sampai di Monumen Holocaust dimana berdiri blok-blok beton besar berbagai ukuran tanpa simbol maupun tulisan. Monumen ini dibangun untuk menghormati 6 juta warga Yahudi yang menjadi korban kekejaman Nazi. Banyak yang bilang dengan berjalan  melintasi blok demi blok beton yang berdiri berjajar tersebut kita dapat merasakan perasaan getir dan kelam korban-korban tadi. Tapi begitu saya mencobanya sih saya tidak merasakan apa-apa :D. Terakhir kami melihat “cuilan” terakhir yang tersisa dari Tembok Berlin yang juga terletak tidak jauh dari Monumen Holocaust. Sisa-sisa tembok Berlin yang masih berdiri ini terletak dipusat bisnis dimana terdapat kedutaan, pusat bisnis dan perbelanjaan. Yang unik oleh-oleh khas dari Berlin adalah gantungan kunci dengan secuil serpihan Tembok Berlin (katanya sih..), makanya saya ga heran yang tersisa dari Tembok Berlin cuma beberapa meter saja karena sisanya habis dijadiin gantungan kunci XD. Puas berjalan-jalan, malam itu Pandji melakukan diskusi dengan teman-teman PPI Jerman tentang Indipreneur.

last wall standing

The Last Wall Standing

holocaust

Hollocaust Monument

H&M

H & M Winter Collection 2014 at Hauptbahnhof

bradenburger tor

Bradenburger Tor

It’s showtime!! Setelah sedikit berjalan-jalan untuk belanja, kami menuju Zentrum Fur Kunst Und Urbanistics (ZKU), venue Mesake Bangsaku World Tour edisi Jerman digelar. Dari luar saya melihat gedung ini seperti lokasi syuting The Walking Dead,

begitu masuk dan melihat auditorium yang terletak dibunker gedung saya pun makin yakin :D. ZKU sendiri memang gedung peninggalan perang dunia milik pemerintah kota yang dikelola oleh swasta dan dijadikan sebagai pusat pertunjukan seni dan budaya.

indipreneur

suasana diskusi Indipreneur

Ambience berbeda tentunya hadir, setelah mengunjungi 5 kota sebelumnya Pandji berpendapat venue kali ini paling asyik dan memancing semangatnya. Terbukti Pandji dan Awwe berhasil mengalahkan telak suhu 2⁰C malam itu dan berhasil menghangatkan 190 warga Indonesia di Jerman (karena ada beberapa yang datang dari luar Berlin) yang hadir terutama saya yang bahkan kepanasan karena berdiri tepat didepan penghangat ruangan :D. Walaupun sedikit terjadi kendala teknis, Pandji dan Awwe tetap bisa menjaga mood masing-masing dan pertunjukan berjalan sukses. Pandji sendiri tanpa sadar menghabiskan tepat 2 jam dipanggung walaupun beberapa bit terlewat. ZKU pecah malam itu! Selesai pertunjukan kami hanya punya waktu sebentar untuk packing dan beristirahat karena pesawat kami kembali ke Amsterdam take off jam 05.30 pagi. Pertunjukan di Amsterdam hanya berselang sehari setelah Berlin.

Terminus

ZKU.. Mirip The Terminus di The Walking Dead??

Kembali mendarat di Schipol kami langsung menuju apartemen Trisya dan disambut ibu kost kami yang lain Icha, housemate Trisya. Saya, Pandji, Awwe, Gamila, Pio dan Danis beristirahat sementara Ben dan Zaindra ke venue untuk melakukan final check. Venue di Amsterdam bernama Crea sebuah gedung kesenian yang terletak disekitar Universiteit Van Amsterdam. Open gate Mesake Bangsaku World Tour Amsterdam adalah jam 4 waktu setempat, 30 menit berselang venue sudah dipadati 150 orang warga Indonesia yang tinggal di Belanda, seperti halnya Berlin, yang hadir pun berasal dari beberapa kota diluar Amsterdam bahkan ada yang datang dari Düsseldorf Jerman! Tiket soldout, beberapa penonton bahkan rela membeli tiket tanpa tempat duduk. Bisa dibayangkan atmosfir di Crea malam itu. Tepat pukul 6 Awwe naik panggung dan BLAAARRR!!!! seisi Crea bergemuruh oleh tawa penonton. Awwe menjalankan tugasnya dengan baik, bagai appetizer yang sempurna bagi penonton sebelum menyantap main course. Setengah jam kemudian Pandji mengambil alih panggung saat penonton sudah dalam kondisi hangat akibat ulah Awwe. Pandji terlihat sangat nyaman malam itu, berhasil menjaga tempo, sesekali meriffing penonton dan melepaskan bit-bitnya dengan nyaris sempurna (karena kesempurnaan hanya milik Allah semata) tanpa ada yang terlewat. Dan dia benar-benar kelewatan malam itu, literally, 2 jam 15 menit dihabiskannya sebelum menyampaikan penutup dan turun panggung diiringi standing ovation dari seluruh penonton.

backstage

Backstage di ZKU…

hallowen

salah satu peserta Hallowen Marathon

Plong!! Itulah perasaan tim setelah sehari sebelumnya sukses di Berlin dan sehari kemudian Amsterdam. Jalan-jalan setelah pekerjaan selesai memang lebih menyenangkan karena sudah tidak ada beban lagi (tentu saja tidak untuk saya karena masih ada PR tulisan ini heheheee..). Malam itu selesai pertunjukan kami makan malam direstoran Pelangi. Ya, restoran yang terletak didaerah Rembrandtplein ini adalah salah satu dari hampir 100 restoran Indonesia yang terdapat di Amsterdam. Saat tiba di Rembrandtplein kebetulan sedang diadakan Halloween Marathon,

semacam karnaval dimana para pesertanya berlari dengan kostum hallowen. Setelah kenyang kami pun kembali ke apartemen Trisya dan membayar hutang tidur malam sebelumnya.

Saat bangun pagi, saya kaget karena walaupun jam sudah menunjukkan pukul 08.30 pagi tapi langit masih gelap, ternyata hari itu dimulainya Day Light Saving dan efeknya perbedaan waktu antara Amsterdam dan Jakarta yang tadinya 5 jam maka mulai hari itu menjadi 6 jam. Agak bingung juga sih, tapi saya yakin hari itu setiap orang Belanda bangun pagi hal pertama yang dilakukannya adalah memutar jam dinding di rumah masing-masih menjadi 1 jam lebih lambat :p. Kota Amsterdam sendiri sangat jauh berbeda dengan Berlin, menurut saya lebih nyeni aja gitu. Bangunan-bangunan tua bergaya Nieuwe Kunst, Art Deco dan Renaissance yang terawat dan tertata rapih tanpa ada coretan-coretan didindingnya, nyaris tidak ada bangunan bergaya modern, transportasi umum utamanya adalah trem dan metro. Pengendara sepeda dan pejalan kaki sangat dimanjakan disini seperti halnya di Berlin. Agenda pertama kami hari ini adalah canal tour¸kanal-kanal yang membelah kota Amsterdam ini dibangun pada abad 17 dan termasuk kedalam UNESCO World’s Heritage.

canal tour kanale kanale1

Awalnya kanal-kanal ini dibangun untuk mengatasi kurangnya lahan untuk pembangunan disebagian wilayah kota Amsterdam yang dulunya adalah laut, kanal dibangun untuk menyalurkan air dan menghindari banjir karena kota Amsterdam sebenarnya memiliki ketinggian dibawah permukaan laut. Jika kita melihat peta kota Amsterdam maka akan terlihat pembangunan kanal-kanal ini memiliki pola yang geometris. Selama 45 menit tour kita menyusuri lorong-lorong kanal yang bersih, deretan rumah khas Belanda yang unik serta berbagai bangunan monumental kota seperti parkiran sepeda terbesar didunia, Oude Kerk yaitu gereja tertua di Belanda, kapal dagang peninggalan VOC yang sudah dijadikan museum, Nemo Science Center yang berbentuk ikonik menyerupai kapal raksasa, rumah-rumah terapung penduduk Amsterdam dan bahkan rumah tersempit didunia yang cuma selebar 1 pintu, bukan seperti ruko 1 pintu tapi benar-benar bangunan 3 lantai dengan 1 pintu yang hanya berukuran 1 m. Kata Trisya canal tour sebenarnya ga menarik dan bakal bikin bosen ada benarnya, tapi bagi orang yang baru pertama kali ke Amsterdam sih layaklah buat dicoba apalagi buat orang Jakarta melihat kali yang bersih dan tidak bau saja sudah merupakan hal yang ajaib. Selesai dari kanal kami pun makan siang dikedai makanan Turki yang terkenal dikalangan mahasiswa Indonesia dengan menu Kap Salonnya. Sebenarnya menu ini adalah kebab tanpa dibalut kulitnya yang disajikan berlapis dengan french fries dilapisan terbawah kemudian diikuti irisan daging kebab, sayur-sayuran dan paling atas terdapat keju mozarella. Heeemmm.. Penasaran rasanya? Ada baiknya anda mencobanya kalau ada kesempatan ke Amsterdam.:)

Lanjuuut.. Kenyang, kami pun mengunjungi Museumplein dimana terdapat beberapa museum dan galeri seni, yang utama adalah Rijksmuseum yang sangking gedenya Reni sampai perlu waktu 3 hari untuk mengelilingi seisi museum. Sayang karena waktu yang terbatas kami tidak sempat masuk kedalamnya. Disekitar Rijksmuseum terdapat museum lain seperti museum berlian dan museum Van Gogh, seorang pelukis terbesar dalam sejarah seni eropa. Karya-karyanya termasuk karya seni terbaik dan paling mahal di dunia. Yang menarik semasa hidupnya Van Gogh mengalami depresi akut sampai-sampai memotong telinganya sendiri, karena merasa gila akhirnya ia menghabiskan sisa hidup di RS Jiwa St. Paul-de-Mausole Prancis. Selama dirawat disana ia tetap melukis. Menjelang malam kami bergeser ke daerah Dam Square dimana terdapat Royal Palace kediaman resmi Raja dan Ratu Kerjaan Belanda walaupun mereka tidak setiap waktu berada disana.

dam square

Royal Palace Dam Square

Uniknya Royal Palace ini tidak berpagar dan pintu utamanya bersinggungan langsung dengan pedestrian dimana banyak orang lalu-lalang, katanya sih itu simbol kedekatan yang tanpa jarak antara kerajaan dan rakyatnya. Mumpung sudah di Amsterdam kami pun mampir ke Red Light Distric yang tersohor itu, disini orang-orang dapat menemukan beberapa hal yang hanya dilegalkan dikawasan tersebut. Banyak tersebar stiker dilarang mengambil foto didaerah ini, mungkin artinya apa yang kami temui didistrik ini tidak bisa dibawa keluar jadi ya sudahlah ya..

Keesokan harinya kami berkunjung ke kota Leiden, sasaran kami adalah universitas tertua di Negeri Belanda yaitu Universiteit Leiden. Banyak mahasiswa asal Indonesia yang berkuliah di universitas ini, bahkan Sultan Hamengkubuwono IX dan Achmad Subarjo adalah alumnus universitas ini. Di kota dengan kepadatan penduduk 51/km₂ inilah dahulu AD/ART Perhimpunan Indonesia disusun. Tujuan utama kami adalah perpustakaan Universitas Leiden, The Asian Library at Leiden University yang pada 2018 akan menjadi perpustakan museum asia terbesar didunia dimana 50% isinya berisi tentang sejarah Indonesia, hebat ya Indonesia.

IMG-20141102-WA002

Bahkan ada kamus dialek Jakarta

IMG-20141102-WA001

Cianjuran euyyy

jurnal

Jurnal tentang Indonesia

dangdut

Dari Endank Soekamti sampai Trio Macan

rhoma

Bang Haji juga ada

Di perpustakan ini banyak terdapat manuskrip, kronik, bibliografi , kitab-kitab kuno dan jurnal Indonesia yang ditulis mulai tahun 1836 dan dibukukan pertahun! Contoh yang saya baca diceritakan tentang kejadian meletusnya Gunung Tangkuban Perahu pada tahun 1910. Pada jurnal tersebut diceritakan bagaimana kondisi Tangkuban Perahu pada saat terjadi letusan dan pasca letusan.

Saya sungguh terkagum-kagum dengan isi perpustakaan ini. Selain naskah-naskah kuno juga terdapat koran-koran dan majalah terbitan Indonesia seperti Tempo, Kompas, Suara Pembaruan, Gatra dan lain-lain dari edisi zaman baheula sampai edisi terbaru dengan Jokowi dan Prabowo mendominasi sampul depannya. Tidak pernah saya merasa sebetah ini berada disebuah perpustakaan tanpa ada niat PDKT ke seorang wanita :D. Sebenarnya sementara waktu perpustakaan ini khusus hanya untuk mahasiswa Universitas Leiden saja, tapi dengan bantuan pinjaman kartu mahasiswa teman-teman yang berkuliah disana kami pun bisa masuk, untungnya tidak ada pemeriksaan karena KTM yang saya gunakan dari seorang mahasiswi yang berhijab langsung ketawan kalau saya penyusup hehehee.. Selain perpustakaan yang menarik dari universitas ini adalah Botanical Gardennya. Disinilah pertama kali pengembangan bibit bunga tulip yang dibawa dari Turki dilakukan hingga akhirnya menyebar ke seantero Belanda dan menjadi bunga nasional. Selain bunga tulip tahukah anda tanaman lain yang menjadi primadona disini? Jawabannya adalah pohon pisang heheheee… tuh di kebun belakang rumah saya juga banyaaak.. Mendengar sejarah berdirinya universitas ini kembali mengingatkan saya akan bit Pandji tentang materi dan pendidikan. Universitas ini didirikan sebagai hadiah Kerajaan Netherland kepada warga kota Leiden. Saat itu kerajaan menawarkan pembebasan pajak selamanya kepada kota Leiden. Alih-alih menerima warga kota malah meminta didirikan sebuah perguruan tinggi sebagai gantinya. Luar biasa ya..

Karena keasyikan di Universitas Leiden, hari itu kami batal meneruskan perjalanan ke Den Haag, karena malamnya kami diundang Om Heidar (Omnya Trisya) untuk makan malam direstoran Indonesia miliknya yang bernama Sarinah Java Kitchen sehingga jam 5 sore kami harus sudah berada di Amsterdam yang berjarak 30 menit dengan kereta api dari Leiden. Kami janjian dengan Trisya dan Icha di Amsterdam Centraal untuk kemudian bersama-sama menuju restoran Om Heidar.

away team

Bertandang ke Amsterdam Arena

Hari terakhir sebelum kepulangan kami ke tanah air, kami ketiban durian runtuh. Om Heidar bersama temannya akan mengantarkan kami mengunjungi Amsterdam Arena, stadion yang menjadi kandang klub sepakbola Ajax Amsterdam. Kami juga ditaktir sarapan di IKEA yang terletak tidak jauh dari stadion. Puas berfoto-foto dan belanja merchandise kami pun kembali diantar ke pusat kota, diperjalanan Om Heidar mampir ke toko kelontong asia dan beliau membekali kami dengan 1 kardus Indomie rebus dan cabe rawit. Muantaaaap!!

IMG_20141028_150608

Cucur ala-ala Amsterdam

straat 2

Salah satu sudut kota Amsterdam

Siang itu kami berpencar masing-masing di kalverstraat, sebuah outdoor shopping area dengan jalanan bercon block. Sepanjang jalan ini banyak terdapat gerai-gerai brand menegah seperti H&M, Sacha, Uniqlo, Clarks, Nike, Adidas, Zara sampai yang kelas atas seperti Louis Vitton, Aigner, Channel dll. Kawasan ini bener-bener surganya shopaholic deh.. Eits jangan sedih, toko oleh-oleh dan souvenir yang serba €5 juga ada kok didaerah ini. Berpisah dari tim, saya dan Awwe dengan Icha sebagai guide mampir ke Amsterdam Cheese Company, semacam Kartika Sari ala-ala Amsterdam. Disini menjual bermacam-macam keju dari susu kambing dan sapi, ada smoke cheese, paprika, wasabi, blackpepper, pistachio dan masih banyak lagi. Enaknya kita bisa mencicipi semua keju-keju tadi sambil dijelaskan seluk-beluknya, kalo bisa Awwe  malah mau minta nasi buat lawan makan kejunya :D. Setelah masuk beberapa toko sambil berjalan, kami bertiga mencium harum kue cucur. Lhaa?!? Masa di Amsterdam ada yang jualan kue cucur sih?? Kami pun masuk ke salah satu toko asal harum kue cucur tadi, penjualnya 2 orang noni-noni muda Belanda dan ternyata mereka menjual semacam cake cokelat dengan isi cokelat putih didalamnya. Karena penasaran kami membeli untuk mencicipinya,bentuknya memang mirip kue cucur rasanya cokelat bangeet dan lumer dimulut belum lagi begitu gigitan kita kena cokelat putihnya wuiiiih… top markotop!! Selesai kegiatan belanja-belanjanya kami pun kembali ke apartemen untuk packing barang bawaan masing-masing. Dan semua koper pun full. Sepertinya kami benar-benar memanfaatkan jatah 30kg bagasi yang diberikan Garuda Indonesia. Ga mau rugi abeeeessss!!! Beres packing, malam terakhir di Amsterdam kami habiskan untuk bermain kartu werewolf bersama 2 orang ibu kost kami.

Sebenarnya saya masih betah di Amsterdam, tapi disisi lain saya juga teringat tanggung jawab akan pekerjaan di Jakarta (sebenernya lebih karena bulan tua dan gaji belum masuk). Kerinduan terhadap Indonesia langsung terobati begitu saya memasuki penerbangan GA 089. Keramahan cabin crew yang khas Indonesia serta lagu-lagu yang berasal dari album The Sounds of Indonesia macam Manuk Dadali, Rasa Sayange, Ampar-ampar Pisang dll benar-benar membuat saya benar-benar merasa sudah di rumah.

Saya merasa sangat beruntung bisa mengikuti Mesake Bangsaku World Tour Pandji yang disponsori Garuda Indonesia. Apalagi mendapatkan destinasi Amsterdam dan Berlin, 2 kota yang menjadi pusat sejarah Eropa. Karakteristik Amsterdam dan Berlin sangatlah berbeda, walaupun terdapat kesamaan dibeberapa sisi. Keduanya adalah tipikal kota-kota negara maju dimana fasilitas publiknya sangat baik, pedestrian yang nyaman untuk pejalan kaki juga tersedia lajur untuk pengendara sepeda. Sedangkan yang berbeda seperti yang saya sampaikan diatas Amsterdam kotanya lebih berseni, disini saya banyak melihat jenis-jenis arsitektur klasik pada tiap bangunannya. Sementara di Berlin tidak seberagam dan sebanyak Amsterdam tetapi saya seperti kembali membuka buku sejarah dunia karena banyak terdapat bangunan-bangunan monumental yang erat kaitannya dengan perkembangan sejarah Eropa. Karakter mahasiswa Indonesia yang ada di 2 kota tersebut pun sangat berbeda, bahkan kita dapat mudah membedakannya. Kalau saya analogikan teman-teman mahasiswa Indonesia yang ada di Berlin adalah coffee shop dimana kita dapat bersantai dan berkumpul untuk sekedar hang out bersama teman-teman sampai dengan larut malam, sementara teman-teman di Amsterdam layaknya sebuah retoran fine dinning yang menawarkan menu-menu yang lezat dan lengkap. Ahhh betapa beruntungnya saya…

Kita harus memberikan apresiasi khusus kepada Garuda Indonesia yang mendukung dan mensponsori Pandji sehingga Mesake Bangsaku World Tour dapat terwujud, hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Momen yang tepat antara keduanya adalah hal utama yang akhirnya berujung pada kerjasama antara keduanya bisa terjalin. Pangsa pasar Garuda Indonesia diluar negeri menurut saya terbagi 2 yaitu wisatawan dan pebisnis asing, yang kedua adalah masyarakat Indonesia yang berada di luar negeri. Pemilihan brand Pandji saya rasa sangat tepat untuk menyasar pasar yang ke 2. Pandji yang sudah dikenal dengan bermacam-macam karyanya ini, melalui Mesake Bangsaku World Tour ini dapat mengobati kerinduan, mengingatkan kembali serta memberikan nostalgia tersendiri akan Tanah Air bagi para warga Indonesia yang tinggal diluar sana, beberapa bahkan sudah sewindu tidak pulang ke Indonesia. Walaupun begitu mereka tetap familiar dengan bit-bit Pandji yang Indonesia bangeet. Pada setiap akhir pertunjukannya Pandji selalu menyampaikan “Jika anda ingin hidup enak dan nyaman disinilah tempatnya, tetapi jika anda ingin hidup yang berdampak maka Indonesia adalah tempatnya. Tanah Air tempat kita lahir, tumpah darah sampai akhir kita menutup mata. Dimana pun kita berada darah yang mengalir ditiap nadi kita merupakan darah merah Indonesia. Jadi senyaman apapun kehidupan anda disini, pulanglah.. Saudara-saudara kita di Tanah Air banyak yang membutuhkan bantuan kita. Bantulah bangun negeri ini, negeri ini butuh tenaga anda.” (menuliskannya kembali pun membuat jemari dan perasaan saya bergetar karena haru)

Bagi saya sendiri perjalanan ini pun meninggalkan jejak tersendiri. Mengunjungi suatu negara yang jauh berbeda dari negara sendiri, mengenali lingkungannya, masyarakatnya, bertemu dengan teman-teman dan warga Indonesia yang berada disana membuat kesan yang mendalam bagi saya pribadi. Jujur suatu saat saya ingin kembali lagi ke Benua Biru ini bukan sekedar untuk liburan biasa tentunya, entah itu kembali sebagai seorang pemenang lomba menulis lagi atau bahkan sebagai peraih beasiswa, hal-hal yang dapat memberikan pengembangan bagi pribadi saya sendiri sehingga dapat menjadi manusia yang lebih berdampak bagi sekitarnya.

Kadang dalam suatu perjalanan bukan hanya tentang kemana kita akan pergi, tetapi dengan siapa kita pergi yang akan lebih memberi arti.

Terima kasih Garuda Indonesia…

Terima kasih Pandji dan tim…

Terima kasih teman-teman PPI Amsterdam dan Berlin…

Advertisements

3 comments

  1. rimut2483 · November 6, 2014

    Kereen lang, jd penasaran pingin jln2 ke sana, btw di buat juga dong pengalaman jln brg team hompimpa ☺

    • Gilang Desnantia · November 6, 2014

      hahahaa…. siap mbak.. coming soon itu “Liburan ke HONG KONG!!”.. lagi diramu dlu biar pas.. 😀

  2. ikoerba · March 9, 2017

    keren, nanti gw tanya2 soal jalur gowes disana yak..kali aja Gilang sempat mengamati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s